Penulis: Saeful jurnalis Radar Nusantara group
Radar investigasi.com
Era digital membawa kemudahan akses informasi, namun juga memunculkan tantangan baru bagi dunia jurnalisme. Kini banyak pihak mengaku sebagai wartawan dengan tampilan profesional, tetapi substansi karya tulisnya minim. Tulisan hanya hasil salin tempel dan olahan kecerdasan buatan tanpa proses verifikasi, konfirmasi narasumber, serta tanggung jawab redaksional.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas informasi publik. Ketika berita disajikan tanpa pengecekan fakta di lapangan, risiko disinformasi meningkat. Masyarakat yang membutuhkan rujukan akurat terkait kebijakan, kesehatan, dan peristiwa penting justru terjebak pada konten yang seragam dan dangkal.
Karena itu, insan pers dan perusahaan media perlu menegaskan kembali prinsip dasar jurnalisme, yaitu Akurasi dan verivikasi tetap menjadi syarat utama sebelum berita dipublikasikan. Kemudian Penggunaan AI,diperbolehkan sebagai alat bantu, namun harus disertai pengawasan editorial manusia dan transparansi kepada pembaca. Dan yang paling penting Originalitas karya harus dihargai sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada publik.
Publik juga berhak menuntut kredibilitas. Berita yang baik bukan hanya enak dibaca, tetapi dapat dipertanggungjawabkan sumber dan datanya.
AI adalah alat bantu, bukan pengganti nalar, etika, dan keberanian jurnalis. Tanpa substansi, sebutan "wartawan" akan kehilangan maknanya.
Reporter : Tim red Radar investigasi.com


