-->

Notification

×


 


 


 

MTSn 7 Kuningan lagi rehab besar besaran melalui program PHTC dengan pagu anggaran miliaran rupiah

Rabu, 04 Maret 2026 | Maret 04, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-03-04T14:36:19Z


Dok: lokasi kegiatan renovasi MTSN Jalaksana 

Radar investigasi Kuningan -

MTSn 7 Kuningan yang lebih di kenal dengan sebutan MTSn Jalaksana saat ini sedang mengalami rehab secara besar-besaran melalui Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) dengan pagu anggaran miliaran rupiah.


PHTC (Program Hasil Terbaik Cepat) atau Quick Win adalah inisiatif strategis pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat peningkatan kualitas layanan publik, utamanya di sektor kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.


Tujuan Utama program ini adalah Mempercepat perbaikan pelayanan masyarakat untuk mencapai visi Indonesia Maju 2045, dengan hasil yang dirasakan langsung oleh masyarakat dalam waktu singkat.




Hasil pantauan media ini di MTSN Jalaksana Rabu 4 Maret 2026, hampir semua ruangan mengalami renovasi namun secara spesifik terkait kegiatan program tersebut media merasa kesulitan mendapatkan informasi yang yang lebih detail karena yang terpampang di papan kegiatan terkait proyek tersebut hanya secara global saja , yaitu sebesar Rp 16.006.929.00 dan lokasi kegiatan berada di 8 lokasi yang berbeda Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Ciamis  salah satunya MTSN Jalaksana, pemenang tender atau kontraktornya adalah PT.Bangun nusa raya serta manajemen kontruksi nya adalah PT.RUDIAN HANSKOJI KONSULTAN. sumber anggaran APBN 2025. waktu pelaksanaannya 210 hari kalender dari 20 November 2025 sampai 17 Juni 2026.


Ironisnya proyek milyar an tersebut media ini tidak menemukan kantor pelaksanaan atau Direksi kit, dan juga untuk keselamatan kerja hanya beberapa orang saja yang menggunakannya mungkin hanya sebagai persyaratan saja.


Hal tersebut mendapatkan tanggapan serius dari Asep Berlin selaku Wakil Ketua LSM, PENJARA INDONESIA DPC KUNINGAN, Menurut nya itu Proyek revitalisasi madrasah negeri yang menggunakan dana publik sebaiknya memprioritaskan pekerja lokal untuk mendukung ekonomi masyarakat sekitar. karena kegiatan pembangunan yang menggunakan dana publik harus berdampak positif bagi warga sekitar lokasi kegiatan.

"‎Menurut kami lsm penjara indonesia dan saya selaku wakil ketua DPC kabupaten Kuningan dalam pengelolaan anggaran publik, kami menyampaikan kecaman keras atas praktik mempekerjakan tenaga kerja dari luar Kabupaten Kuningan dalam proyek pembangunan madrasah bernilai miliaran rupiah dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

‎Proyek ini, yang seharusnya menjadi momentum pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal Kuningan, justru cenderung mengabaikan potensi sumber daya manusia setempat. 

‎Berdasarkan pantauan lapangan kami, sebagian besar pekerja berasal dari luar daerah, padahal Kabupaten Kuningan memiliki ribuan tenaga kerja terampil yang siap berkontribusi. 

‎Hal ini tidak hanya menimbulkan ketidakadilan sosial, tetapi juga berpotensi melanggar prinsip pengelolaan APBN sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara dan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, yang menekankan efisiensi, efektivitas, dan manfaat bagi masyarakat setempat," paparnya dengan nada suara yang berapi-api 


Sementara pihak madrasah melalui Kepala urusan Tata usaha waktu di konfirmasi terkait spesifik pagu anggaran khusus untuk Mts Jalaksana dan tanggapan terkait pekerja mayoritas dari luar kabupaten bahkan termasuk untuk tukang cat ,hanya memberikan jawaban singkat saja. "Waalaikumsalam.. sebelumnya mohon maaf..kami pihak sekolah hanya penerima manfaat, kami tidak diberi informasi terkait pagu anggaran. Mangga untuk lebih jelasnya bapa/ibu bisa menghubungi pelaksana dilapangan 🙏🏻," jelasnya melalui chatting WhatsApp pribadinya Rabu malam (4/3/2026)


"Untuk pekerja kebetulan abdi tidak tahu dari mana saja 🙏🏻," tambahnya 


Sampai berita ini di munculkan pihak kontraktor belum beri tanggapan padahal media ini sudah berusaha konfirmasi melalui chatting WhatsApp ke atas nama Bram yang diduga sebagai pelaksana proyek tersebut, padahal di aplikasi WhatsApp sudah terlihat centang Dua. Entah lagi sibuk ataukah sudah tertidur pulas, padahal jam baru menunjukkan pukul 21.20 Wib


Bersambung ke edisi berikutnya (Red)







×
Berita Terbaru Update