-->

Notification

×


 


 


 

Parah, Fenomena 2026: Banyak Wartawan Hanya Copas Berita, Tak Turun ke Lapangan

Rabu, 13 Mei 2026 | Mei 13, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-05-13T10:47:11Z

Gambar karikatur hanya pelengkap brita saja 

Kuningan RIN- 

Praktik jurnalisme duduk manis alias hanya menyalin berita dari media lain tanpa verifikasi lapangan kembali jadi sorotan di 2026. Fenomena ini dinilai memperparah ekosistem informasi karena memproduksi konten yang minim konteks, rawan salah, dan tidak memberi nilai tambah bagi publik.


Pengamat kebijakan publik Anwar Musadad ,, menyebut tren “copas” makin masif seiring tuntutan kecepatan dan target traffic media online. “Banyak redaksi kecil kejar tayang 20-30 berita sehari. Reporternya cuma satu, akhirnya buka Google, ambil berita orang, ganti judul, publish. Yang rugi pembaca,” ujarnya, Rabu (13/5/2026) melalui sambungan telepon seluler pribadinya 


Dampaknya terlihat jelas. Berita dengan data keliru berulang di banyak portal, klarifikasi tidak pernah dimuat, dan narasumber tidak pernah dimintai konfirmasi. Padahal Kode Etik Jurnalistik pasal 1 dan 3 mewajibkan wartawan bersikap independen, akurat, dan berimbang.


Praktisi informasi asal kota Ciamis ,, menilai masalahnya bukan hanya malas, tapi juga model bisnis. “Iklan program matik bayar per klik. Jadi yang penting banyak tayang, bukan dalam. Jurnalisme lapangan butuh biaya: transport, waktu, narasumber. Itu yang sering dipangkas,” katanya.


Padahal, menurut survei internal Dewan Pers 2025, kepercayaan publik terhadap media yang rutin turun lapangan 40% lebih tinggi dibanding media agregator. Pembaca mulai cerdas membedakan berita hasil liputan langsung dengan berita tempel.


Beberapa redaksi mulai merespons dengan kebijakan “no copy-paste without confirmation”. Mereka mewajibkan minimal satu narasumber baru atau data tambahan kalau mengolah berita dari media lain.


Dia juga mengingatkan, fungsi wartawan bukan sekadar penyebar informasi, tapi pencari fakta. “Kalau cuma copas, mesin AI juga bisa. Bedanya manusia itu bisa bertanya, melihat ekspresi, dan merasakan situasi di lapangan,” katanya.


"Tapi ingat masih banyak juga jurnalis yang melakukan tugasnya  profesional, menjaga integritas dan berpegang teguh pada Kode etik profesi,"pungkasnya 

(Fulls)


×
Berita Terbaru Update