
Gambar karikatur hanya pelengkap brita
Kuningan RIN-
DPRD Kabupaten Kuningan menggelar family gathering bersama wartawan,di kawasan wisata waduk Darma, hari ini 26 Juli 2026. Niatnya silaturahmi. Kenyataannya, yang diundang cuma sekitar 50 orang.
Angka itu kecil. Jauh dari total wartawan yang tiap hari hilir-mudik meliput di gedung dewan. Dan di situlah masalahnya.
Pembatasan undangan ini langsung memantik tanya: ini acara membangun kemitraan, atau membangun “tembok”?
Hanya sekitar 50 Nama Pilihan, dalam undangan kegiatan tersebut Ratusan Lain Dicoret
Tidak ada penjelasan terbuka soal kriteria 50 orang yang masuk daftar. Tidak ada rilis kriteria. Tidak ada undangan terbuka.
Hasilnya: kesan eksklusif, tertutup, dan pilih-pilih.
Di ruang publik, percakapannya langsung liar.
“Apa karena yang 50 ini yang ‘aman’? Yang bisa diatur? Yang kalau dikasih kopi manis nanti tulisannya ikut manis juga?”
Kalimat sinis itu sekarang beredar di grup WA wartawan dan warga Kuningan.
Karena hal tersebut kini independensi pers sedang di uji ,Fungsi pers itu mengawasi, mengkritisi, dan mengoreksi kekuasaan. Bukan jadi tamu kehormatan yang harus jaga perasaan tuan rumah.
Family gathering sah-sah saja. Tapi kalau formatnya tertutup dan hanya mengundang “lingkaran dalam”, publik berhak curiga.
“Jangan sampai independensi wartawan diuji dengan tenda, musik, dan secangkir kopi manis,” kata seorang pengamat media lokal. “Publik butuh DPRD yang transparan, bukan DPRD yang hanya mau dekat dengan media tertentu.”
Hingga berita ini naik, Sekretariat DPRD belum menjawab: siapa yang memilih 50 nama itu? Atas dasar apa? Dan kenapa yang lain tidak?
Kalau tujuannya mempererat, kenapa tidak semua? Kalau tujuannya transparan, kenapa tertutup?
Acara silaturrahmi atau ajang transaksi?
"Tanya pa ketua, yg ngundang beliau, Setwan hanya melayani dan fasilitas, Tidak ada wewenang kebijakan.Kegiatan2 DPRD kita fssilitasi," jelas Sekretariat DPRD menjawab pertanyaan wartawan saat di konfirmasi Kamis 23/7 kemarin melalui chatting WhatsApp pribadinya.
Di kesempatan yang sama ketua DPRD kabupaten Kuningan saat di konfirmasi melalui chatting WhatsApp pribadinya belum menanggapi pertanyaan sama sekali,padahal di aplikasi sudah terlihat centang Dua .
Publik Kuningan sedang menunggu jawaban. Bukan jawaban basa-basi. Tapi bukti bahwa DPRD dan pers masih berdiri di relnya masing-masing: DPRD bekerja untuk rakyat, pers bekerja mengawasi DPRD.
Jangan sampai karena 50 undangan, kepercayaan ratusan ribu warga Kuningan ke dua lembaga ini yang jadi taruhannya.
(Red)

