
Caption, kondisi Waduk Darma yang cukup mengkhawatirkan
Kuningan RIN-
Setelah muncul pemberitaan terkait eceng gondok yang diduga akan merusak citra baik Pemdes Jagara sebagai juara Desa wisata Nusantara juara Satu di tahun kemarin akhirnya pihak pemdes jagara melalui salahsatu perangkat nya yang bernama Pian angkat bicara , Jum'at malam (27/2/2026).
Menurut Pian , selama ini hanya Pemdes Jagara yang aktif dalam penanganan Gulma air yaitu Eceng gondok di perairan Waduk Darma yang sangat menggangu keindahan wisata Waduk Darma
"Allhamdulillah hanya Jagara yang menangani nya (Eceng Gondok...red), sedangkan 8 desa penyangga nya belum ada yang peduli," jelas Kepala Desa Jagara Umar melalui Perangkat desanya (Pian )
Pian juga mengakui pihaknya sudah cape menangani Eceng Gondok yang tak kunjung beres, diapun mengakui pendapat nya sama dengan kepala desa. Saat di kasih masukan media ini terkait lebih relevan kepala desanya nya sendiri yang menanggapi pemberitaan sebelumnya.
"Ini suara saya aja yang sama udah capek menangani eceng yg tidak kunjung beres,Para kepala desa penyangga masih sibuk berebut pengelolaan wisata waduk darma, bukan limbah yang ada di wisatanya," tambahnya.
Sementara salah satu kepala desa penyangga waduk Darma mengatakan Kalau pihaknya yang 8 desa untuk saat ini harus peduli terhadap Waduk Darma rasanya terlalu bodoh , sebab pihaknya merasa tidak pernah ada MOu dengan Jaswita maupun dengan pihak BBS , dan mereka juga belum merasakan atau menikmati apa yang dikatakan oleh pak gubernur tentang keadilan dalam pengelolaan Waduk Darma. yang disandang oleh Desa Jagara terkait penanganan Eceng Gondok menurutnya adalah sebuah konsekuensi yang mana jagara paling eksis dalam pengelolaan dan keikutsertaan dalam pengelolaan Waduk Darma.
"Kalau kami harus ikut andil untuk membersihkan eceng gondok itu mustahil, dan kalau itu terjadi kami fikir sangat bodoh ," jelas salah satu kades penyangga waduk Darma menjawab pertanyaan wartawan melalui Voice not seluler pribadi nya.
Logika sederhana ketika kita memiliki mobil , apakah tetangga harus ikut mencuci mobil atau merawat itu mobil. Jadi kalau Jagara mengelola Waduk Darma , sok aja kenapa ajak yang lain (membersihkan eceng gondok...red)."tambahnya.
Lebih jauh dia menjelaskan pihaknya bukan sentimen terkait konfensasi atau bagi hasil, tapi pihaknya pingin ke adilan ,"kalau tidak tidak semua ," jangan hanya satu desa aja yang menikmati, kemarin menurut nya dalam rapat pihak Jaswita mengatakan terbuka tapi pihak nya menilai lahan udah penuh oleh orang Desa jagara .
Dia juga berpendapat jangan bangga dengan Waduk Darma,karena ketika berganti kepemimpinan baik provinsi maupun Kabupaten ,itu kebijakan nya pasti akan berubah .
"Tunggu aja Lima tahun,sekarang juga sudah banyak orang yang mengatakan kapok masuk Waduk Darma , katanya tiket mahal , prasarana hanya segitu aja dan katanya banyak nya dugaan pungli disana ," tegasnya.
Waktu di tanya mengapa yang melakukan penyampaian aspirasi baru baru ini hanya masyarakat Desa Cikupa ? Kades ini menjelaskan bahwa sebenarnya awalnya pihaknya mau bersama sama delapan desa , namun pihaknya menunggu dulu momen dengan berkirim surat ke sejumlah pihak termasuk kepolisian dan menunggu balasan surat cuman Kades Cikupa sudah tanggung menggerakkan masyarakat.
" Dalam perjalanannya kami di beri tahu nanti pihak Jaswita di hari Jum'at kalau nggak salah , bersedia untuk mediasi sehingga kami yang 7 desa tidak ikut unjuk rasa itu karena sudah ada informasi bahwa Pihak Jaswita akan mengadakan mediasi dengan 8 kepala desa, terkait kades Cikupa , itu karena sudah tanggung Kades Cikupa mempersiapkan personil (masa..red)," pungkasnya
(Red)

