
Gambar karikatur hanya pelengkap brita dengan substansi "Sakit tapii sakti,"
Kuningan RIN-
Kuningan hari ini seperti dua sisi mata uang. Di satu sisi masyarakat menjerit karena tumpukan persoalan. Di sisi lain, segelintir pihak tampak “sakti” karena kasus-kasus besar yang muncul ke permukaan justru berhenti di tengah jalan.
Dalam beberapa bulan terakhir, ruang publik Kuningan dipenuhi suara protes. Demo bertubi-tubi digelar. Tuntutannya beragam: dari transparansi anggaran, dugaan penyimpangan proyek, hingga pelayanan publik yang dinilai belum berpihak ke rakyat.
“Yang kami rasakan sekarang: Kuningan sedang sakit. Kepercayaan publik terkikis karena setiap ada dugaan kasus besar, awalnya heboh, lalu senyap. Tidak ada kejelasan, tidak ada ujung,” ujar salah satu warga Kuningan yang namanya enggan di koran kan
Data yang dihimpun warga, mencatat minimal dugaan kasus yang sempat viral dan jadi sorotan publik sejak. Mulai dari dugaan korupsi, penyalahgunaan wewenang, hingga persoalan tata kelola. Namun hingga hari ini, proses hukumnya berjalan di tempat atau bahkan tidak terdengar kabarnya sama sekali.
Inilah yang kami sebut “sakti”. Bukan sakti karena hebat, tapi sakti karena seperti kebal. Kebal kritik. Kebal proses. Kebal hukum.
Kami tidak menuduh. Kami menuntut kepastian. Buka data dan proses secara transparan. Setiap dugaan kasus yang menyangkut kepentingan publik harus diumumkan progres penanganannya.
Hukum ditegakkan tanpa tebang pilih. Jangan biarkan ada kesan bahwa jabatan, relasi, atau uang bisa membuat kasus menguap. dan libatkan warga dalam pengawasan. Bentuk forum pengawasan publik agar tidak ada lagi kasus yang “hilang ditelan waktu”.
Kuningan tidak boleh terus sakit. Dan tidak boleh ada yang merasa sakti di atas penderitaan rakyat.
Jika negara hadir, hukum harus berlaku untuk semua. Jika tidak, maka demo hari ini hanyalah awal dari kekecewaan yang lebih besar.
(Tim /red)

