Notification

×


 


 


 

KDM Soroti Penggantian Tugu Bola Dunia Kuningan: Jangan Sampai Ikon Baru Menghapus Jejak Sejarah

Minggu, 06 September 2026 | September 06, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-09-06T12:57:00Z


KUNINGAN — RadarInvestigasi.com –

 Polemik perubahan Tugu Bola Dunia menjadi Tugu Patung Kuda di Kabupaten Kuningan kembali menjadi sorotan. Kali ini, sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang dikutip dalam berbagai pemberitaan menjadi perhatian publik.


Inti pesannya tegas: penataan wajah daerah tidak seharusnya dilakukan dengan menghapus begitu saja jejak sejarah dan identitas yang telah melekat di tengah masyarakat.



Tugu Bola Dunia yang berada di koridor Jalan Ir. Soekarno sebelumnya dikenal sebagai salah satu penanda pembangunan Kabupaten Kuningan pada masa pemerintahan almarhum Bupati H. Aang Hamid Suganda. Kini, kawasan tersebut berubah dengan hadirnya Tugu Patung Kuda. Pergantian itu oleh Pemkab Kuningan dijelaskan sebagai bagian dari penataan kawasan dan upaya memperkuat ikon kabupaten Kuningan 


Namun, persoalan yang muncul bukan sekadar soal bola dunia versus patung kuda.


Lebih jauh, publik mempertanyakan bagaimana pemerintah menghargai karya, sejarah, serta simbol pembangunan dari pemerintahan sebelumnya.


KDM: Ikon Baru Boleh, Sejarah Jangan Dihapus

Dalam tanggapan yang dirangkum dari sejumlah sumber, KDM menekankan bahwa perubahan ikon daerah tidak boleh menghilangkan nilai sejarah yang sudah ada.


Artinya, bila pemerintah saat ini ingin menghadirkan simbol baru yang dianggap lebih mencerminkan karakter Kuningan, hal tersebut bukan persoalan. Tetapi, menurut sikap yang dikutip tersebut, ikon baru semestinya dapat ditempatkan di lokasi lain tanpa harus menghapus simbol lama.


Gagasan tersebut menjadi penting karena sebuah monumen publik bukan hanya persoalan beton, besi, bentuk atau estetika.


Di balik sebuah tugu terdapat memori masyarakat, sejarah pemerintahan, gagasan pembangunan dan identitas sebuah zaman.

“Jangan sampai karena ingin membuat ikon baru, kemudian sejarah yang lama dianggap tidak ada,” menjadi pesan yang patut direnungkan dalam polemik tersebut.


Kuningan Boleh Melesat, Tapi Jangan Lupa Pernah Berangkat dari Mana

Pemkab Kuningan sendiri sebelumnya menjelaskan bahwa kuda dipilih karena dinilai sebagai salah satu simbol yang kuat untuk merepresentasikan identitas daerah. Kepala DPUTR Kuningan Putu Bagiasna menyebut perubahan tersebut bagian dari penataan kawasan sekaligus upaya menghadirkan ikon yang lebih kuat di ruang publik strategis. 


Tetapi, pertanyaan publik kemudian berkembang:

Apakah membangun masa depan harus selalu dengan menghapus masa lalu?

Bukankah sebuah daerah justru akan semakin kuat ketika mampu memperlihatkan perjalanan sejarahnya dari masa ke masa?

Kuningan boleh menggunakan slogan “Kuningan Melesat”, boleh menghadirkan patung kuda, boleh mempercantik jalan dan ruang publik. Namun pembangunan yang melesat idealnya tidak membuat masyarakat kehilangan jejak tentang siapa yang pernah membangun dan meninggalkan warisan bagi daerah tersebut.


Sebab sejarah bukan milik satu periode pemerintahan.

Kalau Mau Bangun Ikon Baru, Mengapa Harus Menghapus yang Lama?

Gagasan untuk menghadirkan ikon baru di lokasi berbeda juga patut menjadi bahan diskusi.


Dengan cara itu, Kuningan justru dapat memiliki beberapa simbol sejarah sekaligus: Tugu Bola Dunia sebagai penanda sebuah era pembangunan dan Tugu Kuda sebagai simbol semangat pemerintahan masa kini.


Keduanya tidak harus dipertentangkan.

Bahkan, keberadaan dua ikon dari dua zaman berbeda dapat menjadi cerita tersendiri tentang perjalanan Kabupaten Kuningan.


Terlebih, polemik ini juga bersinggungan dengan penggunaan anggaran daerah. RRI sebelumnya melaporkan adanya dokumen penataan Tugu Bola Dunia Tahun Anggaran 2026 dengan pagu sekitar Rp200 juta, yang mencakup sejumlah pekerjaan penataan kawasan. 


Karena itu, selain persoalan sejarah, masyarakat juga berhak memperoleh penjelasan secara terbuka mengenai perencanaan, nomenklatur kegiatan, anggaran, kontrak hingga hasil pekerjaan.


Jangan Sampai Pergantian Tugu Menjadi Pergantian Sejarah

Pada akhirnya, polemik Tugu Bola Dunia bukan semata-mata perkara bentuk sebuah monumen.

Ini adalah ujian bagi pemerintah daerah: sejauh mana pembangunan hari ini mampu menghormati sejarah kemarin.


Pemimpin boleh berganti.

Slogan boleh berubah.

Ikon boleh bertambah.

Tetapi sejarah pembangunan daerah jangan sampai ikut dihapus hanya karena berbeda zaman dan berbeda pemerintahan.

Kuningan boleh melesat, tetapi jangan pernah lupa dari mana Kuningan berangkat.


RadarInvestigasi.com — Jelas Fakta Tanpa Kompromi.

×
Berita Terbaru Update