
Gambar karikatur hanya pelengkap brita saja
RadarInvestigasi.com —
Karya jurnalistik sejatinya bukan sekadar rangkaian kata yang memenuhi halaman media. Di dalamnya ada fakta, kritik, sudut pandang, sekaligus suara masyarakat yang terkadang tidak nyaman untuk didengar.
Wartawan ibarat garam. Ketika takarannya pas, ia mampu menambah nikmat sebuah hidangan. Begitu pula karya jurnalistik. Ketika disajikan berdasarkan fakta, data, konfirmasi dan kepentingan publik, tulisan seorang wartawan dapat menjadi penambah rasa dalam kehidupan sosial sekaligus pengingat bagi mereka yang memiliki kewenangan.
Namun, garam juga akan terasa perih ketika mengenai luka.
Begitu pula sebuah pemberitaan. Bagi mereka yang merasa tidak tersentuh oleh persoalan yang diberitakan, karya jurnalistik mungkin hanya dianggap sebagai informasi biasa. Tetapi bagi mereka yang merasa ada sesuatu yang tersinggung, terganggu, atau terbongkar oleh pemberitaan, tulisan tersebut bisa terasa jauh lebih tajam.
Di titik inilah publik perlu memahami bahwa kritik jurnalistik tidak selalu merupakan serangan pribadi.
Sebuah pemberitaan yang menyentuh rasa seseorang seharusnya tidak langsung dibalas dengan kemarahan, tekanan ataupun upaya membungkam. Justru, jadikanlah pemberitaan tersebut sebagai momentum untuk berhenti sejenak dan melakukan introspeksi.
Sebab, hati kecil manusia sering kali lebih jujur daripada seribu alasan yang dibuat untuk membela diri.
Jika sebuah tulisan membuat seseorang merasa terusik, pertanyaannya bukan semata-mata “Mengapa wartawan menulis seperti itu?” Tetapi juga perlu muncul pertanyaan yang lebih mendasar: “Mengapa tulisan itu begitu terasa menyakitkan bagi saya?”
Bisa jadi karena sudut pandangnya berbeda. Bisa juga karena fakta yang disampaikan belum lengkap. Namun, tidak tertutup kemungkinan pula karena ada bagian dari kenyataan yang memang menyentuh sesuatu yang selama ini ingin disembunyikan.
Karena itu, jangan mudah marah kepada karya jurnalistik hanya karena merasa tersentuh.
Jika pemberitaan dianggap keliru, bantahlah dengan data. Jika ada fakta yang tidak sesuai, berikan klarifikasi. Jika terjadi kekeliruan, gunakan hak jawab dan mekanisme jurnalistik yang tersedia.
Bukan dengan tekanan.
Bukan dengan intimidasi.
Dan bukan pula dengan berusaha membuat wartawan berhenti bersuara.
Wartawan bekerja bukan untuk membuat semua orang nyaman. Tugas pers adalah menyampaikan informasi, mengawasi kekuasaan, membuka ruang bagi suara masyarakat dan menghadirkan fakta yang memiliki kepentingan publik.
Karya jurnalistik adalah cermin.
Ada yang tersenyum ketika melihat dirinya karena merasa sudah berada di jalan yang benar. Ada pula yang buru-buru memalingkan wajah karena tidak menyukai apa yang terlihat.
Tetapi cermin tidak pernah menjadi penyebab wajah seseorang terlihat buruk.
Ia hanya memantulkan apa yang ada.
Maka ketika sebuah karya jurnalistik terasa seperti garam yang masuk ke dalam luka, mungkin yang dibutuhkan bukan kemarahan kepada garamnya.
Mungkin sudah waktunya memeriksa lukanya.
Karena pada akhirnya, hati kecil tak pernah benar-benar bisa dibohongi.
RadarInvestigasi.com — Jelas Fakta Tanpa Kompromi.

