-->

Notification

×


 


 


 

Hari Kartini 2026: LBI Kuningan Ingatkan Emansipasi Bukan Sekadar Slogan

Selasa, 21 April 2026 | April 21, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-04-21T09:46:04Z

Ketua DPD Laskar Benteng Indonesia (LBI) Kabupaten Kuningan sekaligus Ketua APDESI Merah Putih Kabupaten Kuningan, Heny Rosdiana, S.H., S.Sos., M.Si., N.LP., 

Kuningan RIN- 

Peringatan Hari Kartini tahun ini tak boleh berhenti pada seremoni dan retorika. Ketua DPD Laskar Benteng Indonesia (LBI) Kabupaten Kuningan sekaligus Ketua DPC APDESI Merah Putih Kabupaten Kuningan, Heny Rosdiana, S.H., S.Sos., M.Si., N.LP.,  menegaskan bahwa emansipasi perempuan harus diwujudkan dalam peran nyata, bukan sekadar jargon tahunan.

Menurutnya, semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini sering kali direduksi menjadi simbol tanpa implementasi yang jelas dalam kebijakan maupun kehidupan sosial.

“Jangan sampai Kartini hanya dijadikan ikon seremonial. Emansipasi harus hadir dalam keberpihakan nyata dalam akses pendidikan, ruang kepemimpinan, hingga peran strategis perempuan dalam pembangunan,” tegasnya.

Ia menyoroti bahwa di tengah derasnya arus digitalisasi, perempuan kerap didorong untuk tampil, namun belum sepenuhnya diberi ruang menentukan arah. Karena itu, ia mendorong agar perempuan tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi menjadi subjek yang aktif menentukan masa depan.

Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa kebebasan yang diperjuangkan tidak boleh tercerabut dari nilai dan jati diri. Perempuan, menurutnya, memiliki kekuatan khas pada kepekaan dan perasaan, yang justru menjadi fondasi penting dalam membangun peradaban yang beradab.

“Perempuan tidak harus kehilangan identitasnya demi mengejar kesetaraan. Justru dengan kekuatan nilai, moral, dan kecerdasan,baik emosional maupun intelektual,perempuan bisa menjadi penentu arah generasi,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa peran perempuan sebagai ibu tetap menjadi pilar utama dalam membentuk karakter bangsa. Dalam konteks ini, perempuan adalah “madrasah pertama” yang menentukan kualitas akhlak generasi mendatang.

Lebih jauh, ia juga mengingatkan bahwa negara dan pemangku kebijakan tidak boleh setengah hati dalam mendorong pemberdayaan perempuan. Tanpa keberpihakan yang konkret, emansipasi hanya akan menjadi narasi kosong yang berulang setiap tahun.

“Hari Kartini harus menjadi momentum evaluasi: sejauh mana perempuan benar-benar diberi ruang, bukan hanya diminta tampil. Jika tidak, maka kita hanya merayakan simbol, tanpa melanjutkan perjuangan,” pungkasnya.

(Tim /red)

×
Berita Terbaru Update